Saturday, January 12, 2008

[[Di Balik Titel Fashion Something]]

Di setiap pekerjaan, sudah pasti setiap orang mengharapkan penghargaan. Setidaknya sebuah pengakuan atas karya dan kerja keras, sebuah bukti riil bahwa dia lah si empu di balik karya tersebut. Tulisan, gambar, foto, apa pun sekecil itu, pengakuan merupakan harga yang tidak bisa digantikan dengan nominal mata uang. Rasa kepuasan dan kebanggaan yang dirasakan atas sebuah hasil karya.

Di setiap majalah gaya hidup, yang juga memasukan dunia mode dalam ruang lingkupnya, ada yang disebut fashion editor atau fashion stylist atau fashion director. Sebenarnya titel ini mungkin sekilas terlihat remeh dan hanya sebuah titel atau sebagai penanda hierarki kerja yang formil. I wish it is that simple, but unfortunately no. Ya, jabatan-jabatan ini memang menentukan hierarki kerja dan tanggung jawab dalam sebuah pekerjaan, namun sesungguhnya mengertikah mereka yang diberi kepercayaan menggunakan titel ini?

Saya melihat di sebuah majalah free *atau lebih disebut katalog* ada fashion spreads dan pada credit titlenya tertulis “Fashion Director: xxx”. Saya sempat bertanya dalam hati, apa iya dia ini benar-benar seorang fashion director? terlebih si pengklaim title ini begitu percaya diri dan besar kepalanyakah sampai berani mengklaim jabatan tertinggi di divisi mode sebuah majalah? Yakin sudah banyak makan asam garam dan pengalaman? Sudah berapa peragaan mode papan atas yang sudah dijambangi dan direview? Bisa menulis? Bisa menginformasikan tren melalui visual yang juga dipaparkan melalui teks? atau begini saja apa fashion people benar-benar mengenal anda?

Terlalu banyak orang yang menganggap remeh dan rendah dunia mode. Terlalu banyak mereka yang mengira dunia mode hanya diisi oleh air-head people, sehingga the-real-air-head-people berani bergabung ke dunia mode dan langsung menyatakan dirinya sebagai fashion director. Anda benar-benar seorang fashion director apabila anda memang qualified dan diakui di dunia mode, dan itu semua melalui tahap, not just a click.

Pertama, Anda bisa langsung menjadi seorang fashion stylist atau berangkat dari mengasisteni fashion stylist untuk mengetahui apa sih sebenarnya yang dilakukan stylist. Seorang stylist bukan cuma mondar mandir keluar masuk butik branded goods yang prestise, bukan cuma sekedar mix and match pakaian, bukan sekedar haha hihi dari show satu ke show lainnya. Stylist itu yang memastikan semuanya berjalan lancar dan berhasil memvisualisasikan konsep yang sudah disusun. Kreativitas bukan sekedar dituntut sekedar mix and match, tetapi membuat busana yang dipakai terlihat wah dan menarik it means you have to know to tricks the clothes if it isn’t fitted well, or something bad happened. Pada dasarnya, seorang stylist harus mengert mode, fotografi, make-up, dan juga modelling. Selain itu, stylist juga bertanggung jawab atas baju-baju yang digunakan dalam pemotretan, apabila rusak ya you have to pay it. It’s far from easy and simple being a stylist. If you think you can live glamorously and having fun as a stylist, THINK THRICE!

Kedua, Setelah anda diakui sebagai seorang stylist, yang bekerja dengan hasil visual, kini anda ditantang untuk bekerja memberikan deskripsi melalui kata-kata dan kalimat tekstual sebagai seorang editor. Anda harus menginformasikan tren apa yang sedang berjalan dan tren apa yang akan merebak di musim selanjutnya, ya memang beberapa bisa didapatkan melalui press release, tapi jangan pernah anda berani berbangga diri apabila anda hanya mengandalkan press release tanpa bisa mengartikan trend dari suatu koleksi, atau menangkap benang merah dari berbagai macam koleksi dan menarik kesimpulan trend apa yang sedang berlaku. Pekerjaan seorang stylist juga berkembang setelah menjadi editor, tidak hanya melulu berupa visual, namun selain visual anda juga harus bisa menjelaskannya secara tekstual. Fashion Spreads merupakan wadah nyata kreatifitas anda dalam menerapkan tren yang sedang berjalan dan menyajikannya dengan ide-ide segar. Tidak perlu orisinil, menggunakan panduan dari fashion spreads atau foto-foto fashion dari luar sana juga boleh, namun hanya inspirasinya, bukan berarti asal jiplak, kalau begitu Anda seorang pelagiat namanya, dan harusnya anda malu berani menyebut diri anda seorang editor. Menulis sebuah artikel mode juga tidak semudah itu, seorang editor sejati pasti akan memiliki gaya bahasa sendiri dan gaya penceritaan yang khas, bukan asal sadur dari bahasa-bahasa yang sudah ada. Coba anda bandingkan tulisan-tulisan anda, apabila didapati selama 10 tulisan masih saja cuma bicara padu padan atau palet warna yang dihiasi kata chic tanpa memasukkan unsur-unsur drama dan mood dari koleksi tersebut, berarti anda hanyalah penulis mode saduran dan kacangan.

Setelah melewati asam garam pengalaman di dunia mode dan memang sudah mengetahui seluk beluknya, serta sudah diakui di dunia mode barulah anda bisa dinobatkan menjadi fashion director. Itu pun juga harus dari pengakuan pemimpin di majalah tersebut, chief editor dan juga board of directionnya, bukan asal klaim menaruh titel fashion director di depan nama anda.

Satu lagi, apabila anda benar-benar merasakan merangkak dari bawah bukan sekedar self-proclaimed, pasti anda akan menghargai dan mencantumkan mereka yang terlibat di dalam akreditasi, tanpa bantuan mereka, hasil yang anda banggakan tidak akan ada bukan? meskipun hanya sekedar asisten tetapi pengakuan itu merupakan penghargaan atas hasil kerjanya, terlebih itu membantu anda mendapatkan nama dan pujian.

Apalah arti sebuah jabatan? Andai saya bisa mengatakan pernyataan tersebut semudah itu. Bagi saya, masalah titel ini menjadi sangat sensitif dikarenakan saya tidak segampang itu mendapatkan titel ini. Saya juga berusaha tidak menaikkan pangkat saya seenaknya, karena saya sadar tanggung jawab di balik sebuah titel itu tidaklah kecil. Bahkan saya memanggul jabatan Fashion Editor ini saja masih saya rasakan berat dan terlalu cepat, karena saya belum merasa sudah menjadi fashion editor sejati sepenuhnya. Meskipun begitu, demi menjadi bukan seorang hanya dengan jabatan semata tanpa isi, saya berusaha melakukan tugas-tugas editor dengan inisiatif. And now, I can say it proud out loud that I’m a Fashion Editor! bukan so-called fashion editor tanpa tanggung jawab, ataupun self-proclaimed fashion director. Saran saya untuk mencapai tahapan kelas fashion director adalah you have to having a passion for fashion and journalism, not a passion for appraisal. Mereka yang tidak merasakan dari bawah mana mungkin bisa mengerti kebanggaan sebuah titel palsu. Menyedihkan. (TJ)

[[ Branched ]]*|4:22 AM|

Comments:
Sialnya orang-orang yang banyak bicara & jago berpolitik tapi nggak ada isinya itu, malah yang cepet naek jabatan & dapet gaji gede.

you're absolutely right.

jangan marah-marah mulu ah Mes,
hahhahah.. capee looohh.

Use your idealism for your own satisfaction. Someday it'll pay you off much bigger.


Smangat Bos!
Congrats buat jabatan 'nya
 
wawww.. baca postingan lo gua jadi smakin jelas tentang hierarki titel fashion.. hehehe..
 
inspired abies nenk...
"go fashion consciosness.....!!!!"
 
Post a Comment

Sunday, November 18, 2007

[[Standarisasi Gelar Sosial]]

Siapa yang menduga kini sudah ada pra-syarat untuk menyandang sebuah gelar sosial. Siapa yang menetapkan? Saya juga tidak tahu.
Oleh: Thornandes James R.

Saya bukan artis dan tidak mau disebut sebagai seorang artis. Saya juga bukan seorang sosialista dan tidak mau menjadi seorang sosialista. Saya memilih menjadi rakyat jelata dan orang sipil biasa-biasa saja. Habisnya, sekarang sudah ada pra-syarat penampilan untuk menyandang suatu gelar sosial.

*Sebuah kutipan percakapan teman saya saat diminta menjadi image maker sebuah grup vokal*

Image Maker : Kalau menurut saya, bagusnya penampilan kalian nanti simple aja tapi tetap wah dan fungsional. Seperti ini, silver mini trapezium dress ala tahun 60-an. So it’s 60’s mod meet 20’s glamour. Gimana?

Artis : Aduh, ini kyknya kurang deh. Bajunya kurang ngartis. Kita sih pengennya kayak gini. *memperlihatkan beberapa contoh extravagant gown penuh dengan beaded dan embroidery*

Image Maker : . . . .

Berbeda lagi dengan gelar sosialista. Bukan, saya bukan membicarakan harus menggunakan the latest fashion trend atau harus menenteng the it bags. Bukan juga membicarakan harus menggunakan pakaian dari Dries Van Noten, Stella McCartney atau sandang batik ternama dari Edward Hutabarat Part One. Saya tidak mau disasak untuk menyaingi tingginya monas agar terlihat oleh para warta foto untuk segera diabadikan untuk menjadi bahan bukti the most scary hair-do of the century. Katanya, “Semakin tinggi sasakannya, Semakin tak terhitung harta kekayaannya”. Yah, istilah kerennya, “The More The Merrier”.

Sampai saat ini, saya sendiri masih belum tahu siapa yang menetapkan standarisasi itu semua. Sebuah standarisasi dangkal yang tidak jelas asal-usulnya, dan yang lebih menarik lagi standarisasi penampilan ini justru siap membuat Anda menjadi panutan a-big-no-no-icon. Mari kita sedikit telaah, untuk menjadi seorang ‘artis’ maka Anda harus menggunakan baju yang ekstravagan bermandikan payet ditambah hair-extension yang menjuntai bergulung-gulung, yang bisa digunakan untuk mencebok pantat Anda. Jangan lupakan riasan tujuh lapis menutup pori-pori dengan garis shading seperti tanda marka jalan yang dilengkapi dengan bulu mata palsu atas bawah yang kembali ditegaskan menggunakan mascara, kalau perlu harus ada clump agar semakin jelas. Kalau diserang dengan pernyataan dandan berlebihan, Anda tinggal bersembunyi di balik alasan, “Kan, ini untuk manggung”.

In the name of Prada, Louis Vuitton, and Hermes, I command you to leave! Leave this pitiful-human-being-who-is-calling-herself-an-artist. Sadarkah mereka bahwa less is more. Anda bisa tetap tampil mempesona layaknya seorang superstar dengan padu-padan yang sederhana. Barang seharga sebuah mobil jaguar tidak berarti instant akan membuat Anda terlihat seperti seharga mobil tersebut. Salah-salah Anda kalah menarik dibandingkan lambang jaguar yang nangkring di kap mobil Anda sendiri. Dan perlu juga diingat, Anda tidak dibayar oleh rumah mode manapun untuk menjadi media promosinya. Penampilan head-to-toe dihiasi dari monogram salah satu high-end brand tidak mengartikan Anda kolektor sejati rumah mode tersebut, kenapa tidak sekalian saja Anda gambari tubuh Anda dengan monogram yang serupa.

Dari pada saya harus menjadi korban gelar sosial seperti itu, saya lebih memilih menjadi rakyat jelata saja deh Siapa tahu kalau benar-benar tampil stylish, saya naik kasta jadi selebritis. Iya, selebritis bukan artis loh yaaa! Kan saya gak suka pakai rumbai-rumbai payet dan sasakan yang didesain untuk menyembunyikan tagihan kartu kredit saya.

If you think money will lead you to the top, guess what? Talent and taste will transform you to become a legend. (TJ)

Labels:

[[ Branched ]]*|6:21 AM|

Comments:
hits!!!!! bikin gua ngakak aje yee pagi2..
 
Post a Comment

Tuesday, November 06, 2007

[[Behind The Queen Bee's Concert]]

Sebagian dari Anda mungkin sudah mendengar terjadinya pemboikotan dan pembakaran ID card oleh kalangan pers di konser Beyonce. . I'll tell you exactly what's happen. . it's gonna be a long long long post. . so. . here it goes. .


Behind The Queen Bee's Concert
Di saat seorang Diva sedang bersiap menunjukkan kebolehannya, kami semua diinjak-injak oleh panitia di belakang layar dan dituduh mencemarkan nama baik negara. Laporan dari tempat kejadian oleh Thornandes James R.

Siapa yang bisa menyangka megastar seperti Beyonce Knowles akhirnya dapat tampil di Indonesia mempromosikan albumnya dan memuaskan hati para penggemarnya? Saya sendiri juga tidak percaya saat mendengar Beyonce akan menggelar konser di Jakarta. Kesenangan ini namun tidak diikuti dengan berita mengenai harga tiketnya yang terbilang sangat mahal (IDR 750.000 – IDR 3.000.000), denah aneh festival yang berada di area paling belakang dan berlokasi jauh dari pusat kota Jakarta, JITEC Mangga Dua Square.

Berawal dari konferensi pers awal yang berlokasi di JITEC Mangga Dua Square, segala pertanyaan yang diajukan oleh kami hanya dijawab dengan kalimat berhiaskan kata rahasia dan surprise. Untuk mendapatkan ID peliputan kami harus mengisi formulir, mendaftar lewat fax, dan kembali menghadiri sebuah konferensi pers kedua untuk menukarkan fotokopi KTP dan surat undangan menghadiri konferensi pers dengan (lagi-lagi) formulir perjanjian tata tertib peliputan. Setelah mengisi formulir tersebut, kami baru bisa mendapatkan ID peliputan. Perlu diketahui kami gerombolan media cetak , elektronik, dan on-line berjejalan dan mengantri seperti ular naga panjangnya hanya dilayani oleh dua orang saja. Di saat yang sama, rekan saya dari Media Partner juga ingin mengambil ID miliknya, dan dijawab bahwa Media Partner baru akan dilayani setelah selesai mengurusi seluruh Pers. Hal ini tentunya membuat marah rekan saya. Sebanyak dua konferensi pers kami tidak sedikitpun bertemu dengan pihak manajemen dari Beyonce, hanya ditampilkan potongan klip wawancara singkat saat ia tiba di bandara Halim Perdana Kusuma.

Perlakuan semena-mena kepada kami berlanjut di hari konser digelar. Kami diminta berkumpul di Novotel Mangga Dua selambat-lambatnya pukul 18.30 WIB untuk briefing peliputan dan konser dimulai pada pukul 21.00 WIB. Di lokasi kami hanya disediakan air mineral dan sebuah kabar tidak enak. Pihak panitia mengabarkan yang diperbolehkan mengambil gambar hanya beberapa media tertentu saja seperti Kompas, Jakarta Post, dan Jak-TV. Setelah diprotes, panitia kembali mengganti keputusan dan mengumumkan yang boleh mengambil gambar hanya dari Antara dan Jak-TV, dan kembali kami tetap protes. Di dalam briefing akhirnya dikatakan kami boleh mengambil gambar dengan beberapa ketentuan. Fotografer dan kameramen hanya boleh mengambil lagu sepanjang dua lagu pertama dan reporter baru boleh memasuki di lagu ketiga di saat fotografer sudah keluar. Ketentuan tidak berakhir disini, fotografer dan kameramen mengambil foto dari spot untuk pers yang mana ujung belakang dari area konser di belakang area festival. Di tengah menunggu ke lokasi, panitia mencoba melempar kesalahan kepada kami dengan mengatakan di surat perjanjian tertulis untuk membawa lensa tele. Saya dan teman saya protes karena mereka tidak mencantumkan detail minimal lensa tele untuk mendapatkan gambar di panggung. Jawaban yang saya terima jauh dari kesan professional dan pintar, dikatakan “Saya juga gak tahu minimalnya harus berapa, kalau 300mm tidak dapat ya harusnya ganti ke 500mm atau lebih. Saya disini juga motret kok.” Bagaimana mungkin panitia tidak mengetahui jarak pers ke panggung atau setidaknya denah area? Apa yang mereka kerjakan? Menyombongkan diri kalau mereka adalah panitia yang berhasil mendatangkan Beyonce.

Kemudian kami digiring secara ramai-ramai oleh panitia ke lokasi tempat menunggu untuk masuk ke area konser, seperti tahanan yang mau dimasukkan ke dalam sel. Lokasi menunggu itu adalah sebuah lapangan parkir. Setelah sekian lama menunggu tidak ada kabar, beberapa fotografer keluar dengan geram dan mengeluhkan lensa mereka tidak memadai untuk mengambil gambar karena jaraknya terlalu jauh dan mulailah aksi boikot terjadi dan ditandai dengan pembakaran ID Card peliputan. Menjelang pembukaan, kami semua berbondong-bondong menuju ke depan pintu masuk menunggu keputusan. Keluarlah satu orang panitia berteriak menyuruh fotografer masuk karena sudah dimulai. Kami mengatakan para fotografer sudah pulang. Panitia ini masuk ke dalam dan mengeluarkan polisi. Kami menunggu sesuai kesepakatan, masuk di lagu ketiga. Beberapa fotografer masih di dalam, dan belum lagi lagu pertama selesai mereka sudah digiring keluar. Kami diluar hanya bisa miris mendengarkan sorak sorai penonton dan dentuman lagu crazy in love penanda opening yang merupakan sumber berita. Fotografer pun mulai digiring keluar area, kami masih tidak diizinkan masuk. Lagu Greenlight, Freakum Dress, Baby Boy, Crazy terus terlantun dan kami masih belum diperbolehkan masuk. Saya dan teman-teman mulai hilang kesabaran dan mulai teriak mencaci-maki panitia. Setelah beberapa lama kami teriak-teriak, barulah mereka mengizinkan kami masuk. Saat kami masuk lagu Beautiful Liar baru saja usai dinyanyikan oleh Beyonce.

Hari ini saya menonton sebuah infotainment. Rini Noor dari Nepathya dimintai tanggapan atas boikot yang dilakukan oleh para jurnalis. Dia mengatakan bahwa dengan kami melakukan hal tersebut kami telah menjelekkan nama Indonesia. Saya bingung, bukankah segala sesuatunya ada sebab akibat. Kami juga tidak akan sebegitu gilanya sampai melakukan boikot apabila tidak terjadi apa-apa. Mereka mengatakan melakukan hal itu demi penonton yang telah membayar tiket mahal, sedangkan mereka mengatakan pada kami bahwa yang melarang peliputan itu dari manajemen Beyonce. Kalau itu memang benar dari manajemen artis, bukankah pasti sudah tertera dari awal perjanjian? Dan rasanya tidak akan semudah itu untuk menggonta-ganti kebijakan. Kalau pun memang iya, mungkin saya tau alasannya, lokasi konser ini sangat tidak proper untuk seorang bintang sekaliber Beyonce. Bisa dibayangkan ruangan berbentuk seperti hall basket dengan lantai semen, bahkan mereka yang membayar tiket seharga 2 jt – 3 jt duduk di kursi standar murahan. Menyedihkan.

Saya akui walaupun Beyonce tetap tampil memukau dan mengesankan, kekecewaan para penonton terlihat jelas, terlebih yang berada di festival. Mereka mengeluarkan uang 750rb namun hanya bisa menonton di screen yang terpampang, itu pun juga dengan usaha ekstra. Banyak yang meninggalkan konser sebelum acara tersebut selesai. Selain itu, meurut laporan dari teman saya yang berada di daerah Diamond, mayoritas penonton yang di daerah depan panggung hanya duduk menikmati, tidak berdiri menyemarakkan acara. Bisa dipastikan hal ini mengakibatkan kekecewaan yang sangat terhadap sang megabintang. Terbukti Beyonce tidak menampilkan encore yang biasanya dilakukan olehnya saat setiap menutup konsernya. NO, there was no Get Me Bodied that night!

Di dalam press release tertulis, 5 tulisan terbaik akan diberikan hadiah dari electronic city. Maaf! Kami bukan Jurnalis Karbitan yang bisa disuap seenaknya! Dan Maaf saya juga mampu beli barang elektronik dengan uang saya sendiri! Dan Maaf saya juga punya uang untuk menampar Anda para panitia dengan uang tiga juta di muka Anda semuanya CASH! Dan MAAF, kami jurnalis masih punya harga diri untuk unjuk gigi daripada cari muka dan menjilat pantat Anda sekalian.

What a Shame! One of world’s great performers was taken care by a world’s worst organizer ever! For me, Nepathya and Electronic-City Entertainment is O-V-E-R! cut out!

Labels: , , ,

[[ Branched ]]*|12:48 AM|

Comments: Post a Comment

Friday, October 26, 2007

[[cih!]]

Lucu ya? Sepertinya setiap membaca sebuah cerita roman seakan bisa membawamu masuk ke dalam cerita dan menumbuhkembangkan imajinasi. Imajinasi kerap kali menjadi alam pelarian dari dunia realita. Seperti cerita klise sebuah roman picisan, kita berdua bertemu dan berteman kemudian muncul sebuah rasa. Hanya perlu beberapa intrik dan bumbu dramatisasi maka terciptalah sebuah setengah jalan cerita yang lagi-lagi akhirnya tentang percintaan. Kini permasalahannya adalah bagaimanakah mengakhirinya? Akhir yang sedih atau bahagia? Apabila akhir yang sedih, hanya perlu membunuh salah satu karakter utamanya saja dan selesai. Apabila akhir yang bahagia, sudah dapat ditebak bukan? Andaikan hidup memang seindah dan sedangkal roman picisan, masalah hati mungkin tidak akan sekompleks ini. Oh, atau mungkin diriku baru memasuki kolase intrik dan menuju klimaks?

Klimaks. Kata yang dapat membuat setiap orang membayangkan berbagai macam artinya. Klimaks dalam seks mungkin bisa menjadi pilihan mayoritas para khalayak. Ejakulasi, orgasme, klimaks, menggelinjang, apalah itu. Namun klimaks yang ini tidak terasa seperti ataupun sedikipun mendekati kata nikmat. Lebih mendekati rasa menyesakkan. Cih! Bukankah aku harusnya sudah biasa merasa seperti ini. Cerita lama hanya berbeda skenario. Seterusnya pun sudah dapat ditebak, aku mulai mengeluh dan mencaci dunia serta keadaan. Mencari segala macam celah untuk melampiaskan segala emosi dan sakit hati.

Ini sudah entah keberapa kali perasaan ini kembali terus berulang. Disaat setelah beberapa saat sepertinya suatu hal yang tidak mungkin terjadi, mulai terseret ke realita, dan sesaat realita menyadarkan si mimpi itu, lantas si mimpi kembali ke dunianya. Tertinggal dan ditinggal secepat menjentikkan jari. Tepuk tangan. Aku bertepuk tangan atas sandiwara keparat ini! Kalau perlu aku sampai berdiri menyanjungnya. Rasanya menyesakkan. Buntu.


Please, don’t left me hanging

Because this uncertainty is killing me slowly

I don’t need your ego or sympathy

I only need truth and your empathy

I guess I finally see

You never wanted me

Let me go and just let me know

[[ Branched ]]*|2:20 AM|

Comments: Post a Comment

Sunday, October 21, 2007

[[XL Complain]]

Perhatian bagi yang ingin menggunakan Internet XL

Disini saya bukan ingin menjelekkan salah satu provider, saya disini sebagai salah satu pelanggan yang merasa sangat dikecewakan oleh XL. Dari pertama saya menggunakan Internet XL sudah mengalami masalah.

Pertama saya membeli Internet XL 3G (ibu saya yang membeli)di pertengahan bulan juni memutuskan utk menggunakan paket Giga data (gratis penggunaan internet sebanyak 3 GB) yakni seharga IDR 500.000/bulannya dan ditanyakan ingin limit berapa untuk penggunaannya, ibu saya memilih limit IDR 500.000, namun si CS XL malah menyarankan utk 250.000 saja dengan dalih untuk starternya melihat apakah penggunaannya berapa per bulannya dan ibu saya mengiyakan saja. Pada saat ini, ibu saya beranggapan total pembayaran per bulan (apabila pemakaian sampai limit) IDR 750.000. Kemudian saya pakai baru 1 minggu (pemakaian baru sampai 300MB), sudah tidak dapat digunakan lagi, bahkan untuk digunakan sms dan telepon juga tidak bisa. Saya dating ke XL Service untuk complain, tapi dikatakan saya tidak bisa menggunakan sampai 3GB karena limit saya hanya 250.000, 3GB baru bisa digunakan apabila limitnya minimal 550.000 dan dikatakan limit saya sudah habis. Akhirnya saya minta naik limit jadi 550.000, dan mereka bilang bisa tapi untuk mengaktifkannya saya harus bayar total tagihan di muka saat itu juga (berarti disini harusnya limit saya bisa digunakan sampai 2 bulan ke depan dong, karena yg bulan juni belum habis dan saya sudah membayar tagihan untuk bulan Juli) dan saat saya membayar saya memastikan berarti saya tidak perlu membayar lagi sampai bulan Agustus dan mereka mengiyakan. Sesaat setelah itu tidak ada masalah saya menggunakan nomor saya untuk internet, telepon, dan sms sampai pada suatu ketika saya kembali tidak bisa menggunakan internet, telepon, dan sms, saya cek limitnya, saya baru menggunakan sekitar IDR 350.000. Saya kembali cek ke CS lewat telepon dan dikatakan saya sudah overlimit (IDR 808.000), jadi limit IDR 550.000 itu sudah tergabung paket internet (IDR 500.000 + PPn), jadi kalau dikira2 kesempatan saya untuk menggunakan telepon dan sms hanya sekitar IDR 20.000 (dari awal tidak ada yang menjelaskan kalau biaya internet dan telepon/sms dijadikan satu). Kali ini saya membayar sesuai jatuh tempo yaitu pertengahn bulan Agustus (sudah tidak dapat digunakan sejak pertengahan akhir Juli). Di Agustus semuanya lancar tidak ada masalah, saya hanya menggunakan nomor ini hanya untuk internet, dan pada bulan September kembali di saat sebelum jatuh tempo tidak bisa digunakan sama skali, hal ini saya biarkan sekitar 1 minggu lamanya, dan ibu saya yang complain, kembali diminta dibayar di muka untuk mengaktifkannya, dan maka dibayarlah untuk bulan September di awal Oktober (selang waktu pembayaran terakhir hanya 2 minggu), kembali saya menggunakannya hanya untuk internet, saya baru menggunakan belum sampai 1 GB, 2 minggu setelah pembayaran terakhir kembali tidak bisa digunakan dan dikatakan limitnya sudah habis (ini utk penagihan jth tempo pertengahan November) dan dikatakan ini penghitungan penggunaannya sejak pertengahan September (bukannya harusnya dari awal oktober terakhir pembayaran ya? Dan saya gak pernah menggunakan, kok bisa sampai batas limit?) dan si CSnya malah menawarkan untuk mengaktifkan sementara dan bertanya kapan mau dibayar untuk tagihannya itu? I think it’s such a non-sense. . dari awal kok rasanya bener2 cuma dikerjain dan ditipu. .

[[ Branched ]]*|12:35 AM|

Comments: Post a Comment

Wednesday, April 04, 2007

[[Dongeng]]

Hei! Aku terdiam sepi menantimu. Aku terasing murung menunggumu. Menghitung langkah si jarum jam panjang yang kurus, angkuh menyusul dan meninggalkan si jarum jam gemuk pendek. Dan kemudian itu dia dirimu hadir. Tampan dan menarik seperti biasanya. Namun ku tak langsung beranjak dan menyambutmu. Ku tak langsung sigap menghampirimu. Ku tak langsung memeluk dan mendekapmu. Berlebih ku tak langsung menghujani ciuman diatas bibir merahmu. Semuanya akan terasa seperti bukan cerita dongeng apabila itu semua terjadi, saat ini. Detik ini juga. Karena ini cerita dongeng.

Ini dongeng. Lalu di setiap malam-malamnya, tidak pernah ku tak menyebut namamu. Sekedar berkhayal yang terlihat seperti berlatih. Siapa tahu, siapa tahu. Hihi, aku tergelak sendiri, tersenyum. Kembali melantunkan nada yang sama mengeja namamu. Per suku kata. aku lebih suka per suku kata. Lebih terasa hadirmu dibandingkan saat kueja namamu per huruf. Bercanda, ceria. Tergelak haha hihi. Cium cium. Peluk peluk. Ah, aku sayang kamu! Eh, kurang nyata. Coba diulang. Aku tersipu-sipu. Tertawa. Senyum senyum. Peluk dipeluk. Ini dongeng!

Tahu tidak? Di setiap ku berbicara. Aku sopan, bukan murahan. Tahu tidak? Namamu itu yang kusebut sopan tidak murahan. Tidak bernafsu tapi penuh cinta. Yah, sedikit berhasrat, namun itu wajar. Aku tetap sopan. Sopan membicarakan namamu. Sopan mengucapkannya. Halus, tidak kasar dan memburu. Ini dongeng. Karena itu aku berkata sopan bukannya nyinyir atau vulgar. Aku hanya ingin berbicara kata demi kata yang terangkai dengan subyeknya namamu. Atau mungkin sebagai objek. Dengan kesopanan, kata-kata yang terangkai menjadi kalimat. Tentunya dengan hiasan namamu. Bisa subyek ataupun obyek. Kalimat kususun menjadi dialog tentangmu. Namamu jadi objek. Terkadang subjek. Aku ingatkan. Aku berbicara dengan sopan dan kesopanan demi namamu. Karena ini dongeng.

Ini dongeng. Aku bahagia ini dongeng. Ini bukan nyata, namun dongeng. Mata ku mulai sayu kembali mendayu. Hatiku mulai luruh melayu. Tangis ini kurasa bukan haru biru. Ini jeritan pilu. Ini adalah dongeng. Itu andaiku. Dongeng terburuk.

[[ Branched ]]*|1:13 AM|

Comments:
ngingetin gw sama suatu cerita yang tokohnya sadar kalo dia di dalem cerita, "Tidak usah memaksa..kita ada di dalam cerita"

Ckckc, kalo hidup jadi dongeng enak. Kita Tuhannya, kita bisa mengarang indahnya. Ckckc..
 
Post a Comment

Sunday, March 11, 2007

[[Review Film: Dreamgirls]]

We're your dreamgirls
Boys we'll make ya happy...yeah!
We're your dreamgirls
Boys, we'll always care
We're your dreamgirls, dreamgirls will never leave you
No,no and all you've got to do is dream, baby..
We'll be there..

Dreamgirls akhirnya tiba di Indonesia, setelah penantian sekian lama sejak gembar-gembornya dari tahun lalu. Saya sendiri sudah sangat tidak sabar untuk menontonnya saat tahu penyanyi favorit saya, Beyonce Knowles, menjadi pemeran utama di dalam film tersebut, bahkan sampai-sampai saya membeli album soundtracknya duluan sebelum menyaksikan isi filmnya sendiri. Sangat tidak sabar! Too excited? More than you can imagine!

Dreamgirls merupakan adaptasi dari sebuah pertunjukan sukses di broadway musical yang dipertunjukkan pertama kali pada tahun 1981 di Imperial Theatre dan memangkan Tony Awards pada tahun 1982. Dreamgirls sendiri menceritakan mengenai perjalan karir dari sebuah grup musik wanita bernama The Dreamettes yang akhirnya berganti nama menjadi Dreamgirls. Perjalanan karir mereka memang menjadi alur utama cerita, namun konflik-konflik yang terjadi di dalam grup itu sendiri lah yang menjadi bumbu sedap dari cerita ini.

Melihat dari segi visualisasi dan musikalitas, tentunya film ini sudah tidak diragukan lagi, ditambah film ini juga berhasil mendapatkan nominasi terbanyak di ajang bergengsi Academy Awards 2007 dengan 8 nominasi dan berhasil menyabet 3 piala Oscar. Tata cahaya, koreografi, kostum, tata suara, panggung, musikalisasi patut diacungi beribu jempol, begitu pula dengan aktingnya. Namun, sayangnya menurut saya penokohannya dirasakan tidak pas. Beyonce yang berperan menjadi Adeena Jones seharusnya memiliki karakter vokal yang sedikit flat dan tidak terlalu menonjol, hal ini tentu berbeda dengan Beyonce yang memiliki karakter suara yang pop-up sekali. Sedangkan Jennifer Hudson yang sukses memerankan Effie White memang pantas mendapatkan Piala Oscar untuk aktingnya, namun tidak untuk suaranya. Di nada-nada tinggi dan rendah, suara J-Hud dirasa sedikit memaksa, apalagi di dalam cerita tersebut suaranya dibandingkan dengan Beyonce, cukup berbeda jauh, terlebih mereka menyanyikan lagu yang sama namun berbeda versi, saya bisa cukup merasakan perbedaan yang signifikan, bukannya saya membela favorit saya, namun Beyonce jauh lebih matang.

Di dalam masa promosinya, Beyonce menjadi pemeran utama, namun apa yang saya rasakan justru Beyonce lah yang menjadi supporting actress. Efie White yang diperankan oleh J-Hud justru menurut saya adalah pemeran utama di dalam cerita tersebut. Tentunya hal tersebut merupakan strategi untuk menjual film ini juga ke publik dengan cara mengeksploitasi nama Beyonce, terlebih ceritanya mengenai trio wanita, yang mana juga mirip dengan kisah si Beyonce di dunia nyata dengan grup musiknya Destiny’s Child. Kurang menjual apalagi coba?

Setelah menyaksikan langsung di layar lebar saya semakin tergila-gila dengan soundtracknya, dan tidak henti-hentinya saya kembali memutar dan memutar album dari soundtracknya dan saya pun turut menyanyikan. .

And I am telling you
I'm not going
You're the best man I'll ever know
There's no way I can ever, ever go
No, no, no, no way
No, no, no, no way I'm living without you
Oh, I'm not living without you, not living without you
I don't wanna be free
I'm staying, I'm staying
And you, and you, and you
You're gonna love me

Dreamgirls is not going anywhere from my mind. .

Labels:

[[ Branched ]]*|4:16 AM|

Comments: Post a Comment

[[ Branched Over Me ]]

Image hosted by Photobucket.com
.:: thornandes james ::.
.:: Male ::.
.:: 15.06.1986 ::.
.:: Djakarta ::.
.:: Fashion Editor ::.

[[ My Adores ]]

.:: Labs Luminaire 00:03 ::.
.:: Destiny's Child ::.
.:: John Galliano ::.
.:: Tom Ford ::.
.:: Dolce & Gabbana ::.
.:: Alexander McQueen ::.
.:: Roberto Cavalli ::.
.:: Dean & Dan Caten ::.
.:: Christopher Bailey ::.
.:: Hedi Slimane ::.
.:: Elie Saab ::.
.:: Tyra Banks ::.
.:: Gemma Ward ::.
.:: Lily Cole ::.
.:: Will Chalker ::.

adopt your own virtual pet!

[[ My History ]]

|February 2005|March 2005|April 2005|May 2005|July 2005|April 2006|May 2006|June 2006|July 2006|August 2006|September 2006|October 2006|November 2006|February 2007|March 2007|April 2007|October 2007|November 2007|January 2008

[[ The Conversations ]]

[[ My Friends ]]

|.:: My Gallery ::.|
|Elyse Sewell|
|Fa|
|Cherry|
|Bona|
|Mr. Bantal|
|Shrivastava|
|Aditya|
|Donovan Dennis|
|idiothique|
|Alex|
|Arya|
|Nia|
|Indie|
|Penunggu Pagi|
|Kotak Hitam|
|Teh Manis|
|Faisal|
|Lfour|
|Indonesian Fashion Police|

blog-indonesia

[[ Credits ]]

|Ev0nE's World Of Emptyness|
|Ev0nE's Fairyland|
|Ev0nE's Tutorials|
|Blogskins|
|Blogger|

Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com